Tuesday, January 27, 2026

7 Makanan Tertua di Indonesia yang Masih Bertahan Hingga




Indonesia bukan cuma soal pemandangan alamnya yang juara—pantai, gunung, dan hutan tropisnya memang bikin takjub. Tapi ada satu "mesin waktu" lain yang sering kita nikmati tanpa sadar: kuliner. Lewat makanan, kita bisa mencicipi jejak sejarah yang panjang, bahkan sampai ke masa kerajaan Hindu–Buddha. Menariknya, beberapa hidangan yang kita santap hari ini ternyata sudah dinikmati oleh para leluhur ratusan hingga ribuan tahun lalu.

Berikut 7 makanan tertua di Indonesia yang masih eksis dan tetap bikin nagih sampai sekarang.

1. Rawon (Sejak Abad ke-10)

Sup daging berwarna hitam pekat ini bukan sekadar ikon Jawa Timur. Nama Rarawwan, yang diyakini sebagai cikal bakal rawon, tercatat dalam Prasasti Sanguran (928 M) dan Prasasti Taji (901 M). Kunci kelezatan rawon terletak pada buah kluwek—bahan yang beracun jika mentah, tetapi berubah menjadi sangat gurih setelah diolah dengan benar. Ini jadi bukti bahwa nenek moyang kita sudah memiliki pengetahuan kuliner yang luar biasa.

2. Pecel (Abad ke-9)

Sayur rebus yang disiram sambal kacang ini ternyata sudah berusia lebih dari seribu tahun. Pecel disebut dalam Prasasti Simpang (901 M) dan Kakawin Ramayana. Dalam bahasa Jawa Kuno, kata "pecel" berarti "diperas" atau "dibuang airnya", merujuk pada proses pengolahan sayuran sebelum disajikan. Sederhana, sehat, dan terbukti tahan zaman.

3. Dodol atau Jenang

Kalau kamu mengira dodol adalah jajanan modern, kamu perlu berpikir ulang. Kudapan manis dan lengket ini sudah dikenal sejak lama dengan nama Dwadwal, yang tercatat dalam Prasasti Sanguran. Pada masa lampau, dodol bukan sekadar camilan, melainkan sajian sakral untuk upacara adat dan persembahan bagi para dewa.

4. Tape (Fermentasi Kuno)

Tape dari singkong atau ketan adalah contoh kecerdikan kuliner Nusantara. Teknik fermentasi ini sudah dikenal sejak lama dan sering disebut dalam naskah kuno sebagai hidangan pesta rakyat. Selain menghasilkan rasa manis-asam khas, fermentasi juga menjadi cara alami untuk mengawetkan makanan.

5. Papeda

Dari Timur Indonesia, papeda menjadi bukti bahwa sagu adalah "raja karbohidrat" Nusantara sebelum beras mendominasi. Makanan pokok masyarakat Papua dan Maluku ini telah dikonsumsi selama ribuan tahun. Teksturnya yang lengket dan cara makannya yang khas menjadikan papeda bukan sekadar makanan, tapi juga identitas budaya.

6. Gudeg (Era Kesultanan Mataram)

Gudeg memang lebih banyak tercatat sejak era Kesultanan Mataram pada abad ke-16, namun teknik memasak nangka muda dalam waktu lama diyakini sudah ada sebelumnya. Konon, hidangan ini berawal dari para pekerja pembabat hutan yang memasak nangka dalam jumlah besar menggunakan kayu bakar. Dari kebutuhan praktis, lahirlah makanan legendaris.

7. Sayur Lodeh

Sayur bersantan ini tak hanya lezat, tapi juga sarat makna. Lodeh dipercaya sudah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan di Jawa. Di Yogyakarta, sayur lodeh bahkan dimasak bersama-sama saat terjadi wabah atau bencana, sebagai simbol kebersamaan dan tolak bala.

Kuliner Indonesia adalah bukti nyata bahwa lidah kita punya memori yang sangat panjang. Menyantap hidangan-hidangan ini sama saja dengan mencicipi potongan sejarah yang masih hangat—hidup, dan terus diwariskan.


No comments:

Post a Comment